Selamat Datang

Blog ini masih dalam pengembangan, jika anda mempunyai usulan atau informasi-informasi lain yang perlu ditambahkan atau dikurangi dalam blog ini, silahkan menghubungi kami.
Terima Kasih

11 Desember 2008

Jurnal Nasional: Sulsel Kehabisan Stok Obat HIV/AIDS

Sulawesi Selatan kehabisan stok obat antiretroviral (ARV), obat yang digunakan untuk pengobatan bagi penderita HIV/AIDS. Stok habis ini terhitung sejak Juli lalu.
Padahal obat dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS harus berkonsistensi tinggi atau tidak boleh terputus dan tepat waktu.
Jika kekosongan stok ini masih berlangsung hingga bulan Oktober berakhir, dikhawatirkan penderita HIV/AIDS di Sulsel dan di Kota Makassar khususnya akan mengalami resistensi terhadap tiga jenis obat ARV yang habis ini karena pengobatannya tidak kontinue.
Tiga jenis obat antiretroviral atau ARV yang habis ini adalah antiretroviral jenis nevirapin, antiretroviral jenis efaviren dan antiretroviral jenis stavudin.
Ketua Metamorfosa, lembaga swadaya masyarakat yang menangani kasus narkoba dan HIV/AIDS di Makassar, Mohammad Sophian Ihramsyah menyebutkan, selain terjadi di Sulsel, stok obat ARV juga habis di daerah-daerah lain seperti di Kalimantan dan Manado Sulawesi Utara.
Untungnya di Sulsel karena kasus kehabisan stok ini masih bisa diakali dengan cara mengombinasikan tiga jenis obat ARV ini dengan obat ARV jenis lain sehingga untuk sementara bisa dikendalikan.
Tapi jika hingga Oktober ini suplai belum tiba maka dikhawatirkan pengobatan teman-teman penderita Odha bisa terputus, kata Mohammad Sophian Ihramsyah, saat dikonfirmasi, Minggu (19/10).
Pengobatan terputus menurut Sophian, sangat berisiko bagi penderita karena HIV ini berbeda dengan penyakit lain yang mungkin masih bisa ditanggulangi dengan cara pengobatan yang lain.
Terapi ARV bagi ODHA perlu mendapat perhatian yang cukup serius mengingat bahwa ARV adalah obat yang dikonsumsi seumur hidup dengan tingkat resistensi yang cukup tinggi pula

Olehnya pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan menjadikannya skala prioritas. Di Sulsel, berdasarkan data terakhir Metamorfosa posisi April 2008 lalu, jumlah Odha sebanyak 2.059 orang yakni masing-masing kasus AIDS sebanyak 602 orang dan HIV sebanyak 1.457 orang.
Hadija Tahir, penanggung jawab obat antiretroviral (ARV) di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar saat dikonfirmasi Minggu (19/10) mengakui, stok tiga jenis obat ARV ini habis sejak Juli 2008 lalu.
Meski, pihak Departemen Kesehatan (Depkes) di Jakarta terus berdalih jika permintaan obat untuk Sulsel telah dipenuhi dan pengirimannya sejak 22 Juli 2008 lalu, tapi tiga jenis yakni antiretroviral jenis nevirapin, antiretroviral jenis efaviren dan antiretroviral jenis stavudin belum juga tiba hingga bulan Oktober ini sebentar lagi berakhir.
Dijelaskan, setiap bulan pihaknya mengirimkan laporan pemakaian obat sekaligus proposal permintaan obat selama tiga bulan ke depan ke Departemen Kesehatan di Jakarta untuk mengantisipasi jika ada lonjakan permintaan dan penambahan pasien.
Termasuk Juli lalu, telah mengirim laporan pemakaian obat dan proposal permintaan obat untuk bulan Agustus. Disusul bulan September dan Oktober.
Namun tidak ada realisasi.Sudah lebih dari sepuluh kali kami menghubungi pusat baik melalui telepon, short massage service (SMS), e-mail, dan pengiriman kilat.
Namun alih-alih memberikan jawaban yang bagus jika akan mengirimkan obat, kami justru disebut-sebut tidak pernah memasukkan laporan pemakaian obat, kata Hadija.
Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo adalah rujukan pengadaan obat ARV se Sulawesi Selatan. Awalnya hanya melayani distribusi obat ARV ke Puskesman Ujung Pandang Baru dan Puskesmas Kassi-kassi tapi sejak dua tahun terakhir ini RS Wahidin Sudirohusodo juga melayani pendistribusian obat ARV ke rumah sakit lain.
Dan yang rutin memasukkan permintaan adalah Rumah Sakit Labuang Baji, Rumah Sakit Andi Makkasau Kota Madaya Pare-pare, Rumah Sakit Sawerigading Kota Palopo, Rumah Sakit PT Inco di Soroako dan klinik Prof Halim di Makassar.
Kekosongan stok obat ARV sejak Juli lalu, menurut Hadija bisa dikendalikan untuk sementara karena kreativitas pihak pengelola distribusi obat ARV.
Yakni dengan cara melakukan barter antara tiga jenis obat penting ini yakni nevirapin, efaviren dan stavudin dengan sejumlah rumah sakit yang selama ini mendapat suplai dari Rumah Sakit Wahidi Sudirohusodo, Makassar.
Namun jika bulan Oktober nanti berakhir, stok obat benar-benar sudah habis dan tidak ada lagi obat yang bisa dibarter untuk membantu penderita HIV/AIDS. (Salviah Ika Padmasari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar